Virus corona sedang menjadi momok di dunia seusai menewaskan ratusan warga di Wuhan, Tiongkok.

Spekulasi maupun dugaan bermunculan mengenai penyebab asal virus tersebut. Salah satunya berasal dari sup kelelawar, sebuah makanan popular di Wuhan, Tiongkok.

Ahli Patologi Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor Prof Drh Agus Setiyono MS, PhD, APVet saat dijumpai pada hari Kamis,30 Januari 2020 menuturkan, IPB pernah mendalami riset tentang kelelawar buah hasil kerja sama dengan Research Center for Zoonosis Control (RCZC), Hokkaido University, Jepang.

Dalam penelitian tersebut ditemukan enam jenis virus baru pada kelelawar buah dengan daerah sampel yaitu Bukittinggi, Bogor, Panjalu (Ciamis), Gorontalo, Manado, dan Soppeng (Sulawesi Selatan).


Virus tersebut adalah coronavirus, bufavirus, polyomavirus, alphaherpesvirus, paramyxovirus dan gammaherpesvirus.

"Semua virus itu berbahaya, tidak hanya Corona. Temuan itu Kita dapatkan dalam feses kelelawar, mungkin kalau penelitiannya lebih lama kita bisa menemukan banyak virus baru," kata Agus.

Menurut Agus, mengkonsumsi kelelawar buah memang dapat berisiko terpapar virus corona bila preparasi kelelawar menjadi bahan makanan dilakukan secara kurang tepat.

Namun demikian, kelelawar yang terpapar virus Corona dapat berada di dalam tubuh kelelawar tanpa menimbulkan persoalan medis bagi kelelawar dan virus ini tidak secara khusus hidup di dalam kelelawar buah.

“Hewan lain juga memiliki kemungkinan menjadi induk semang virus ini,” kata Agus.


Menurut Agus, letak geografis kelelawar buah tidak menjadi penentu penyebaran virus karena virus ini secara umum terdapat pada kelelawar buah dimanapun berada. Peluang paparan virus Corona, kata Agus, juga bisa terjadi di Indonesia, tidak hanya di Wuhan.

Hal itu terjadi karena kelelawar terbang sangat jauh dan dapat berpindah tempat tinggal (habitat) mengikuti musim buah sebagai makanan pokoknya.

Prof Agus memberikan saran untuk dapat melakukan pencegahan terhadap serangan virus corona. Yakni tidak bersentuhan dengan kelelawar baik langsung maupun tidak langsung.

Kedua, tidak memakan buah sisa masak pohon yang digerogoti kelelawar, meskipun biasanya ini yang paling manis.

Ketiga, sebaiknya bagi sebagian masyarakat dengan budaya mengonsumsi sayur atau lauk dari kelelawar mulai mempertimbangkan kembali untuk melanjutkan mengkonsumsi kelelawar.

“Masih banyak pangan fungsional yang baik dan menyehatkan,” kata Agus memungkasi.***