
Film dokumenter berjudul “9 Putri Sejati” setidaknya telah ditonton oleh 8.100 warga ketika diputar di Kantor Desa Suruh, Kabupaten Semarang, Minggu (19/1) kemarin. Demi kelancaran agenda nonton bareng (nobar), panitia dalam hal ini Pengurus Daerah (PD) Aisyiyah Kabupaten Semarang bersama Insan Perfilman Indonesia Lembaga Seni Budaya dan Olahraga (LSBO) PP Muhammadiyah memutar film tersebut sebanyak empat kali penayangan.
“Total ada lebih dari 8.100 orang penonton. Alhamdulilah, masyarakat sangat antusias dimana anak-anak TK kami wajibkan menonton didampingi orang tuanya karena itu film perjuangan,” kata Ketua PD Aisyiyah Kabupaten Semarang, Ida Zahara Adibah.
Dengan adanya generasi muda mulai TK sampai SMA sederajat yang ikut menonton, pihaknya optimistis 10 atau 15 tahun mendatang yang bersangkutan dapat mengingat apa yang mereka tonton. Ketika ditanya apa tujuan dilaksanakan nobar film yang mayoritas bersetting lokasi di Kauman Yogyakarta itu, Ida Zahara menjawab, utamanya adalah dalam rangka rangkaian Syiar Muktamar Muhammadiyah yang rencananya hendak digelar di Surakarta pada Juli 2020 mendatang. Selain itu, juga untuk memberikan gambaran tentang perjuangan dimana pada 1914 KH Ahmad Dahlan sudah memikirkan tentang nasib kaum perempuan yang ada di Indonesia.
“Karena ketika itu, perempuan kedudukannya masih nomor dua, jadi masih seken <I>class<P>. Hanya ada di kasur, dapur, dan sumur. Lalu KH Ahmad Dahlan mendidik murid-muridnya perempuan-perempuan itu agar mereka maju, ketika perempuannya merdeka maka akan memajukan Indonesia,” paparnya.
Film yang disutradarai seniman Arif Rahman dan Adhit Jikustik sebagai penanggung jawab aransemen ini, lanjut dia, juga menggambarkan dengan terangkatnya harkat dan perempuan saat itu dan hasilnya bisa dirasakan saat ini. Peran Aisyiyah pun dinilai sangat besar, mengingat pada 1928 Aisyiyah diketahui telah mempelopori Kongres Perempuan Indonesia.
“Yang mempelopori masyarakat bisa membaca huruf latin dan huruf arab itu juga Aisyiyah. Hasilnya bisa dirasakan, salah satunya dibuktikan banyaknya perempuan yang duduk di ranah publik,” ungkapnya.
Selain mengangkat perempuan, Ida Zahara menuturkan, film tadi juga memberikan tuntutan melalui dialeg bahasa Jawa. Yang mana kultur budaya Jawa, sangat mengedepankan <I>ungah-ungguh<P>, tata krama, serta pendidikan karakter.
“Ada pendidikan karakter di film ini, anak-anak khususnya di Kabupaten Semarang jadi tahu dan harapannya tetap mengaplikasikan bahasa Jawa sebagai bahasa ibu,” tutur dia.
Melihat antusiasme masyarakat yang luar biasa, Aisyiyah Kabupaten Semarang berencana membuat kajian untuk menggelar kegiatan serupa di desa dan kecamatan lain di Kabupaten Semarang. Rencana itu, tentunya tetap didukung oleh LSBO PP Muhammadiyah.












0 Komentar