
Presiden Palestina, Mahmoud Abbas kembali menegaskan penolakannya terhadap rencana perdamaian Timur Tengah yang diusulkan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump. Penegasan ini disampaikan Abbas saat berpidato di Dewan Keamanan PBB di New York pada Selasa, ketika unjuk rasa menentang proposal yang dinamai "Kesepakatan Abad Ini" itu berlangsung di wilayah Palestina.
Menyerukan negosiasi alternatif dengan Israel, Abbas mengatakan rencana Trump tersebut tak bisa mencapai perdamaian dan keamanan dan tidak sesuai dengan solusi dua negara yang telah lama disuarakan.
Kepala Otoritas Palestina ini juga menampilkan peta yang mencatat wilayah Palestina yang semakin berkurang.
"Ini adalah tanah kami, ini adalah tanah kami yang disengketakan, apa hak kalian mencaplok tanah-tanah ini?" tegasnya, seperti dikutip dari Alaraby, Rabu (12/2).
"Anda akan menghancurkan setiap kesempatan untuk perdamaian," lanjutnya.
Perwakilan Tetap Israel untuk PBB, Danny Danon menuding Presiden Abbas menolak negosiasi.
"Jika Presiden Abbas serius terkait negosiasi, dia tak akan berada di sini hari ini," kata dia.
"Dia akan berada di Yerusalem atau di Washington duduk bersama dengan rekan negosiasinya," imbuhnya.
Danon menambahkan, Abbas tidak serius dengan negosiasi atau perdamaian. Kehadirannya di PBB untuk mengalihkan ketidakseriusannya untuk negosiasi, duduk bersama, dan membahas perdamaian.
Duta Besar AS untuk PBB, Kelly Craft mengatakan visi Presiden Trump dalam Kesepakatan Abad Ini sebagai resolusi positif dan sebuah tawaran terbuka.
Perwakilan Tetap Inggris untuk PBB, Karen Pierce menegaskan kembali keprihatinan Inggris mengenai pencaplokan Tepi Barat oleh Israel yang makin meluas.
Pierce menyatakan bahwa "setiap tindakan sepihak tersebut akan bertentangan dengan hukum internasional dan merusak upaya baru untuk memulai kembali perundingan perdamaian".
Beberapa jam sebelum Abbas berpidato di PBB, ribuan warga Palestina berunjuk rasa menentang proposal perdamaian Trump. Diperkirakan 5 ribu sampai 7 ribu warga Palestina berkumpul di pusat kota Ramallah, pusat pemerintahan di Palestina, untuk berunjuk rasa yang dipimpin Perdana Menteri Mohammed Shtayyeh, seperti dilaporkan AFP.
Ratusan demonstran kemudian melakukan aksinya di dekat pos pemeriksaan Israel di pinggir kota, dimana terjadi bentrokan antara para pemuda yang melempar batu dan tentara Israel yang menyemprotkan gas air mata.
Sebanyak 12 warga Palestina terluka, termasuk dua orang ditembak dengan peluru karet, kata Bulan Sabit Palestina.
Di Jalur Gaza, sekitar 2 ribu orang berunjuk rasa di Kota Gaza untuk mendukung pidato Presiden Abbas di PBB yang menentang rencana AS dan Israel.
Presiden Abbas menyinggung unjuk rasa dalam pidatonya di DK PBB.
"Lihatlah apa yang terjadi sekarang di Tepi Barat dan Jalur Gaza, 100.000 orang turun ke jalan menolak kesepakatan ini."












0 Komentar