
KEHIDUPAN Pemerintah Desa Bumiayu, Kecamatan Weleri, membentuk Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) bernama Bumi Mandiri. Peresmian BUMDes dilakukan Camat Weleri Nur Cholis di lokasi sekitar embung Bumiayu, Minggu (2/2).
Kades Bumiayu, Moh Johan mengatakan, BUMDes Bumi Mandiri bergerak di beberapa bidang, salah satunya sektor pariwisata. Pembentukan badan usaha tersebut, bertujuan mempertegas kepada warga, jika wisata lokal di Bumiayu dikelola oleh Bumi Mandiri.
''Selain pariwisata, juga akan mengelola air bersih, pembuangan, usaha alat tulis kantor (ATK), dan persewaan alat bangunan seperti molen yang digunakan untuk mengaduk semen,'' terangnya.
Dirinya menambahkan, mendukung embung menjadi destinasi wisata, pemerintah desa memberikan sejumlah fasilitas, seperti wifi gratis, spot swafoto, dan wisata kuliner. Embung Bumiayu yang diresmikan sekitar Januari 2019 bertujuan sebagai wisata kuliner. Embung itu menjadi andalan warga untuk mengairi lagan pertanian di sekitar desa. ''Luas embung satu hektar dan merupakan sumber pengairan lahan pertanian sekitar 30 hektar,'' jelasnya.
Kabid Pariwisata pada Dinas Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata Kendal, Kardiyantomo mengatakan, pembentukan BUMDes yang dilakukan pemerintah desa merupakan langkah yang bagus. Hal itu embung bisa dikelola lebih baik dengan menggunakan dana desa. Embung itu memiliki potensi bagus untuk jadi tempat wisata. ''Lahan parkir ada, lokasi kuliner juga ada akses jalan juga tidak jauh. Kami siap membantu mempromosikan kepada masyarakat,'' tutur dia.AN hamba di dunia ini perlu menggabungkan antara mahabbah (cinta), khauf (rasa takut) dan roja (berharap). Dalam setiap perbuatan dan ibadah seorang hamba harus ada ketiga hal ini sebagaimana seseorang dalam urusan dunianya.
Seorang hamba, harus menyeimbangkan antara khauf dan roja sebagaimana dalam sebuah ayat yang menjelaskan seorang hamba berdoa dengan harap dan cemas. Apabila terlalu besar dan mendominasi rasa takut (khauf), maka akan terjerumus dalam akidah khawarij yang putus asa dari rahmat Allah padahal Allah Maha Pengasih. Apabila terlalu besar dan mendominasi rasa roja, maka akan menghilangkan rasa takut kepada Allah.
"Keduanya (roja dan khauf) jika seimbang, insya Allah selamat fiddunya wal akhiroh," tutur Pengasuh Ponpes Addainuriyah 2, KH Dzikron Abdullah saat memberikan tausiah dalam Mujahadah Kubro di Jl Sendang Utara No 38, Gemah, Minggu (2/2) semalam.
Ada beberapa keadaan di mana salah satu dari khauf dan roja ini perlu sedikit mendominasi. Ketika sakit yang akan mengantarkan kematiannya, maka perbanyak rasa roja (berharap) kepada Allah akan pahala ibadah-ibadah yang dulu pernah dilakukan. Apalagi ibadah tersebut adalah ibadah yang disembunyikan, hanya Allah dan ia yang tahu serta benar-benar hanya mengharap wajah Allah saja.
Namun, hendaknya khauf (rasa takut) dan roja (berharap) itu sama. Tidak boleh mendominasi rasa takut dan tidak boleh mendominasi rasa berharap. Apabila salah satu dari keduanya mendominasi, Kata KH Dzikron, orang tersebut akan binasa. Karena, ketika rasa berharap kepada Allah lebih besar, seseorang akan merasa aman dari murka Allah. Sedangkan jika rasa takut lebih besar maka ia akan putus asa dari rahmat Allah.
"Namun, adakalanya rasa berharap harus lebih mendominasi ketika melakukan ketaatan dan rasa takut lebih mendominasi ketika ingin melakukan maksiat," imbuhnya.
Karena, ketika melakukan ketaatan akan menuntut adanya husnudzon kepada Allah, sehingga hendaknya rasa harap lebih besar yaitu ia mengharapkan amalannya diterima. Adapun dalam maksiat, hendaknya rasa takut lebih besar agar ia tidak terjerumus dalam maksiat.
Jika menghendaki Allah membukakan pintu khauf kepada kita, maka bayangkanlah maksiat apa saja yang telah kita lakukan kepadaNya. Kemudian, aturan apa saja yang telah kita langgar niscaya akan muncul rasa takut kepadaNya.
"Namun, jika kamu menghendaki supaya Allah membukakan pintu roja. Maka, bayangkanlah nikmat kasih sayang dan ampunan yang telah Allah berikan kepadamu, walaupun kamu sendiri masih menjalani maksiat. Adapun mahabbah adalah tingkatan tertinggi dari keduanya (khauf dan roja)," jelasnya.
Meski langit mendung, ribuan jamaah tetap khusyuk mengikuti istighosah yang dipimpin para imam mujahadah. Para jamaah dari berbagai daerah itu mendengarkan tausiah dengan khidmat. Hadir dalam acara itu, CEO Suara Merdeka Network (SMN), Kukrit Suryo Wicaksono, Ketua PCNU Kota Semarang, KH Anasom, dan Kapolsek Pedurungan, Kompol Eko Rubiyanto.












0 Komentar